Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, Juni 08, 2010

Ahmadinejad: Osama bin Laden Berada di Washington

Washington - Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Pria yang sering bersuara lantang terhadap Amerika Serikat (AS) ini mengatakan jika pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden berada di AS, tepatnya di Washington.


"Saya mendengar bahwa Osama bin Laden di Washington," kata Ahmadinejad dalam sebuah wawancara dengan ABC, seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (5/5/2010) di acara Good Morning America.

Ahamdinejad menjelaskan, Osama berada di AS lantaran selama ini memang orang yang paling dicari oleh AS itu berpartner dengan Presiden AS sebelumnya, George W Bush.

"Dia ada di situ. Karena dia adalah partner Bush sebelumnya. Mereka kolega bahkan di hari tua. Kau tahu itu," paparnya.

"Mereka berbisnis minyak bersama-sama, bekerja bersama-sama. Osama bin Laden tidak pernah bekerja sama dengan Iran, tetapi ia bekerja sama dengan Mr Bush, "kata Ahmadinejad.

Di akhir dialog, Ahmadineejad meyakinkan kembali jika Osama berada di Washington. "Yakinlah bahwa dia di Washington. Saya rasa ada kemungkinan besar dia ada di sana," pungkasnya.
(anw/her)

Sumber : "http://www.detiknews.com/read/2010/05/05/214648/1351921/10/ahmadinejad-osama-bin-laden-berada-di-washington"

Jumat, Februari 26, 2010

1000 Jin Doakan Gusdur Pada Saat 40 Hari

Almarhum KH Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, layak mendapatkan doa dari semua kalangan dan makhluk. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Dzikrussyifa’ Asma’ Brojomusti Sendangagung Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, doa itu tidak saja dari sesama lintas agama dan lintas budaya, tetapi juga dari bangsa jin, tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga malaikat pantas turut mendoakan.


“Gus Dur adalah auliya dan wali Allah, ulama yang keshalehannya patut diteladani. Tingkat dunia supranaturalnya sangat tinggi,” kata Muzakkin, Kamis (11/2/2010).

Muzakkin menyatakan, 1.000 jin di ponpesnya pada Kamis malam Jumat legi ini akan menggelar doa bersama memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur. Doa itu digelar semalam suntuk.

“Usai doa bersama seribu jin akan saya ajak berziarah ke makam Gus Dur di lingkungan Ponpes Tebuireng, Jombang, untuk melanjutkan doa di sana,” ujarnya.

Jumat, Oktober 16, 2009

Noordin M Top Langgar Rambu Al-Qa`idah

Tertangkap dan tewasnya Noordin M Top (NMT) dalam penggebrekan di Kampung Kepuh Sari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri merupakan kado Idul Fitri untuk bangsa ini.

Kesuksesan operasi destroying terrorism ini d samping didukung oleh faktor keseriusan Pemerintah RI dalam memerangi terorisme juga dikarenakan keteledoran Noordin M Top yang sudah beberapa kali mengabaikan rambu-rambu operasi yang menjadi standar baku Al-Qa`idah.

Standar operasi tersebut tertulis dalam dokumen highly secret super rahasia yang bertitelkan "Durus askariyyah fi jihad at-thawaghith" (Training militer untuk memerangi penguasa thaghut/musuh agama) setebal 180 halaman yang berisi 18 latihan pokok untuk para operator Al-Qa`idah.

Dokumen penebar petaka itu merupakan dokumen super rahasia sehingga di dalam sampul pengamannya yang bermotif mirip batik tertulis sebuah warning "Man`u ikhrajihi minal bait" (Dilarang keras dipindahkan dari rumah).

Yang lebih menghebohkan adalah sampul dokumen tersebut yang bergambar bola dunia dengan sebilah pedang panjang yang menusuk peta dunia dengan ujungnya penuh berlumuran darah.

Picture language ini merupakan pesan bahwa negara-negara thaghut harus dibasmi dan dihajar dengan kekuatan bersenjata dan bukan dengan diplomasi damai.

Hal ini juga dipertegas dengan tulisan Arab yang ada di pojok kanan dokumen tersebut yang berbunyi `Silsilah askariyyah; I`lanul jihad ala thawaghith al-bilad` (Seri Militer: Deklarasi Perang Terhadap Negara-negara Thaghut) yang menguatkan bahwa latihan dan penjelasan dimaksudkan untuk memploklamirkan perang terhadap negara-negara yang menurut versi Al-Qa`idah merupakan target operasi.

Dokumen Al-Qa`idah ini, diawali dengan pernyataa berisi ideologi kekerasan yang merupakan satu-satunya strategi untuk menggapai mimpi politik Al-Qa`idah, yaitu berdirinya Islamic Government di muka bumi.

Pernyataan itu berbunyi "Pemerintahan Islam tidak pernah dan tidak akan pernah tegak berdiri dengan cara diplomasi damai dan kerja sama. Akan tetapi harus dengan pena dan senjata, dengan kata dan peluru. Kami tidak butuh dialog model Plato, Aristoteles dan Socrates. Akan tetapi yang kami butuhkan adalah diplomasi dengan mesin perang dan dialog bom".

Negara thaghut dalam persepsi Al-Qa`idah dan juga semua jejaring kekerasan termasuk Al-Jama`ah Al-Islamiyyah, adalah setiap negara yang tidak memperjuangkan Islamic Government dan Khilafah Global meski penduduknya beragama Islam.

Berdasarkan ide utama ini, sehari setelah penemuan bahan peledak di Jati Asih, Bekasi dan ditemukannya sebuah dokumen rencana pembunuhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Penulis bahkan sempat diwawancarai langsung oleh stasiun SBS (Special Broadcasting Service) Sydney, Australia, tentang rencana teroris membunuh Presiden SBY. Penulis menjawab, bahwa hal itu sangat dimungkinkan karena SBY adalah seorang Presiden yang selalu membawa negara Indonesia dalam koridor Pancasila.

Sementara di mata jejaring penebar teror, Pancasila adalah sesuatu yang najis termasuk juga demokrasi juga super najis. Penguasa pendukung Pancasila dan Demokrasi adalah penguasa thaghut yang menurut dokumen Al-Qa'idah tersebut harus diperangi.


Tempat persembunyian Salah

Pelanggaran Noordin M Top terhadap rambu-rambu Al-Qa`idah nampak jelas ketika dia memilih tempat persembunyian yang tidak sesuai dengan pesan "kitab suci" penebar teror tersebut. Persembunyian di Wonosobo, Cilacap, Jati Asih dan terakhir di Mojosongo adalah sebuah kesalahan besar dalam operasi tertutup (covertly operation) sebuah gerakan clandestine (bawah tanah).

Dokumen "Virus Agama Tanpa Cinta" ini menjelaskan, untuk menentukan tempat persembunyian setidaknya diperlukan 22 syarat yang harus dipenuhi. Jika yang disewa adalah apartemen, maka apartemen tersebut harus berada di lantai dasar, tidak ada yang tahu kecuali anggota yang sedang melakukan operasi, memakai nama palsu ketika menyewa dan lebih dianjurkan untuk menyewa milik non-Muslim.

Demikian pula, apartemen yang akan disewa juga lebih diutamakan yang baru dibuka dan terletak di tengah kota dan bukan di kampung pelosok, kecuali untuk kawasan yang tidak memiliki kota atau tidak aman, maka dipastikan untuk menyewa sekitar pegunungan.

Penampilan Noordin yang berjenggot tebal dan panjang ketika tertangkap, juga merupakan pelanggaran rambu operasi karena seorang operator (dokumen tersebut menyebutnya dengan sebutan "Ikhwan") harus berpenampilan klimis, tanpa ada simbol jenggot yang menggelantung, terutama ketika seorang ikhwan beroperasi di wilayah yang belum terbiasa dengan budaya jenggot.

Sebagai suatu wilayah operasi, Indonesia mempunyai citra tersendiri terhadap jenggot. Lain halnya dengan budaya Arab yang hampir semua komunitasnya memelihara jenggot meski dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Hal ini bisa dibuktikan dengan saudara-saudara kita yang beragama Kristen Coptic Mesir yang petinggi-petingginya terutama Paus Shenouda diharuskan memelihara jenggot panjang.

Dua pelanggaran di atas adalah yang paling fatal, di samping pengabaian rambu-rambu lain termasuk seperti menikahi wanita bercadar. Melihat pelanggaran-pelanggaran Norrdin tersebut, penulis sempat bertanya-tanya: Apakah Noordin dalam sembilan tahun terakhir ini masih belajar untuk menjadi Al-Qa`idah sejati atau karena perburuan intens dan serius yang dikerahkan oleh pemerintah RI ini membuat Noordin tidak bisa lagi menghafal buku sakti penebar bom tersebut?

Pada sisi lain, dengan membaca Juklak dalam dokumen tersebut, penulis berkesimpulan bahwa rekrutmen Ibrahim (Boim) seorang pegawai hotel dan florist sebagai pengendali operasi, memang sudah sangat sesuai dengan standar operasi Al-Qa`idah.

Dalam operasi besar, Al-Qa`idah lebih memprioritaskan operator yang memiliki latar belakang pekerjaan terutama pegawai hotel, petugas bandara dan juga petugas border (perbatasan) atau imigrasi.

Bukan Panglima Asia Tenggara

Kapolri dalam konferensi pers setelah penggerebekan jejaring Noordin di Solo menyatakan bahwa Noordin adalah "Qa`id" (Panglima) dari "Tanzim Al-Qa`idah" wilayah Asia Tenggara. Hal ini didasarkan pada novum dokumen yang ditemukan di TKP.

Berdasarkan data-data dan referensi yang penulis telusuri selama ini, penulis meragukan klaim kelompok Noordin tersebut. Karena hal ini tidak sesuai dengan struktur organisasi Al-Qa`idah yang tidak pernah mengenal adanya Qa`id (panglima) yang membawahi sebuah kawasan teritorial tertentu.

Sistem komando sentralistik Al-Qa`idah hanya mengenal satu panglima militer (Qa`id) yang mengendalikan operasi (al-amaliyat) internasional. Pos ini pernah dipegang oleh Khalid Syeikh Muhammad (KSM) warga negara Pakistan yang jaringannya sangat kuat.

Anggota National Movement for the Restoration of Pakistani Sovereignty ini pernah mengkoordinir Mansour Jabbarah, Abdul Hakim Murad, Wali Khan Amin Syah dan juga Riduan Ishomudin (Hambali atau Encep Nurjaman) yang merupakan tokoh Al-Jama`ah Al-Islamiyyah di Indonesia. Di samping itu KSM ini juga merupakan orang yang sangat dekat dengan MILF Philipina.

Military commander kelahiran Kuwait 14 April 1965 ini memiliki serenteng nama alias (falsified names); Ashraf Refaat Nabith Henin, Khalid Abdul Wadood, Salem Ali dan Fahd bin Abdallah Bin Khalid.

KSM juga terlibat dalam konspirasi bombing Januari 1995 di Manila, yaitu operasi pengeboman pesawat komersial Amerika Serikat yang memiliki rute penerbangan dari Asia Tenggara menuju Amerika Serikat.

Mastermind tragedi 11 September ini menyelesaikan pendidikan tingginya di North Carolina Agriculture and Technology University dan menyandang gelar insinyur tahun 1986 dan tahun berikutnya langsung terlibat dalam perang melawan Soviet di Afghanistan.

Aparat keamanan mulai dari Polri, TNI dan BIN (Badan Intelijen Negara) harus bersama-sama komunitas bangsa lainnya untuk menghadapi ideologi kekerasan tersebut dengan "4D", yaitu Deny; menolak semua ideologi kekerasan yang membahayakan keutuhan NKRI, Defeat: Menaklukkan serangan ideologi terorisme, dan Diminish; Meminimalisir ruang gerak jejaring penebar teror dan para suporternya dan terakhir Defence; yaitu mempertahankan dan mendukung komunitas penebar "damai untuk semua" dan penebar jargon "Jihad untuk hidup bersama dan bukan untuk mati bersama" yang diperkenalkan oleh intelektual moderat, guru sekaligus sahabat penulis, Gamal al-Banna yang juga adik kandung Hasan al-Banna (pendiri Al-Ikhwan Al-Muslimun)

Fenomena kekerasan dengan mengatasnamakan "Membela Kepentingan Tuhan" khususnya di Indonesia adalah beban tugas yang harus diurai oleh Pemerintah RI. Pencarian solusi yang bijak dan bermartabat dalam bingkai kemanusiaan harus dilaksanakan secara multifaceted (melibatkan semua lini) dan multipronged (semua segi).

Solusi ini tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan saja, tetapi juga melibatkan dimensi agama, sosial, ekonomi dan juga dimensi psikologi bangsa Indonesia.

Untuk menyelamatkan umat, ulama beserta para intelektual juga harus secepatnya membuat "ma`alim" rambu-rambu counter ideology sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Syeikh al-Azhar ketika itu, Jadul Haqq Ali Jadul Haqq, bersama ulama al-Azhar dalam menghajar buku penebar teror al-Faridhah al-Gha`ibah karya Abdussalam Faraj, aktivis Al-Ikhwan al-Muslimun (Ikhwanul Muslimin).

Counter Ideology itu bisa berupa ijtihad kolektif dengan tema besar: Mafahim al-jihad yajibu an tushahhaha (pemahaman-pemahaman jihad yang harus diluruskan) yang diharapkan bisa menjadi pegangan bangsa ini ke depan. (***)

Sumber :AntaraNews.Com

Rabu, Agustus 19, 2009

KEKELOMPOKAN JAHILIYAH

Oleh: A. Mustofa Bisri
Seperti diketahui, sebelum kedatangan Islam, khususnya masyarakat Arab sangat terkenal dengan budaya pengelompokan kabilah, klan, suku, dengan tingkat fanatisme yang luar biasa. Masing-masing mereka tidak hanya suka membanggakan kelompok sendiri, tapi sering kali sambil merendahkan kelompok yang lain. Sedemikian fanatiknya masing-masing mereka terhadap kelompok sendiri, seolah-olah mereka punya ‘akidah’: Kelompok sendiri selalu benar dan harus dibela mati-matian sampai mati. Inilah yang disebut ‘Ashabiyah. Terjadinya banyak peperangan dan pertumpahan darah di antara mereka, umumnya diakibatkan oleh ‘ashabiyah atau fanatisme kelompok ini.

Persoalan sepele bisa menjadi api penyulut peperangan besar apabila itu menyangkut kehormatan atau kepentingan kelompok. Pertengkaran pribadi antar kelompok dapat dengan cepat membakar emosi seluruh anggota masing-masing kelompok oleh apa yang disebut-kecam nabi Muhammad s.a.w. dengan Da’wa ‘l-jahiliyyah, masing-masing pihak yang bertengkar memanggil-manggil meminta bantuan kelompoknya. Dan pertengkaran pribadi pun menjadi peperangan antar kelompok.

Itulah salah satu ‘kegelapan’ Jahiliyah yang diperjuangkan Rasulullah s.a.w. untuk dikuakkan oleh cahaya Islam.

Nabi Muhammad s.a.w., Nabi Kasih sayang yang membawa agama kasih sayang, memperkenalkan kehidupan kemanusiaan yang mulia. Nabi mengingatkan bahwa seluruh manusia berasal dari bapak yang satu yaitu Adam. Tak ada seorang atau sekelompok pun manusia yang lebih mulia dari yang lain. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non Arab. Kulit putih tidak lebih mulia dari kulit hitam. Yang termulia di antara mereka di hadapan Allah adalah yang paling takwa kepadanya.

Mereka yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah berarti dia telah masuk Islam dan disebut muslim. Dan muslim satu dengan yang lain – menurut Nabi Muhammad s.a.w. – bersaudara; tidak boleh saling menghina, tidak boleh saling menjengkelkan, tidak boleh saling melukai. Masing-masing harus menjaga nyawa, kehormatan, dan harta saudaranya. Muslim satu dengan yang lain ibarat satu tubuh atau satu bangunan.

Demikianlah; panutan agung semua orang yang mengaku muslim, Nabi Muhammad s.a.w., mempersaudarakan umat Islam di Madinah antara mereka yang berasal dari suku-suku asli Madinah (Kelompok Ansor dari suku Khazraj dan Aus) dan para pendatang dari Mekkah (Kelompok Muhajirin dari berbagai suku) dan mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Madinah yang non muslim. Dan dengan demikian kedegilan ‘ashabiyah Jahiliyah yang selama ini berakar kuat pun sirna, digantikan oleh kearifan akal budi kemanusiaan yang mulia.

Memang adakalanya penyakit ‘ashabiyah itu nyaris muncul lagi, namun kebijaksanaan Rasulullah s.a.w. segera menangkalnya sejak gejalanya yang paling dini; seperti peristiwa yang terjadi setelah perang Bani Musthaliq pada tahun kelima hijrah.
Waktu itu, seorang buruh yang bekerja pada shahabat Umar Ibn Khatthab (dari Muhajirin) berkelahi dan memukul seorang sobat suku Khazraj. Orang ini pun berteriak memanggil-manggil dan meminta bantuan kelompok Khazraj; sementara si buruh pun berteriak-teriak meminta bantuan kaum muhajirin. Hampir saja terjadi tawuran antara kedua kelompok itu. Untung, Rasulullah segera keluar, sabdanya : “Maa baalu da’waa ‘l-Jahiliyah?” (“Lho mengapa ada seruan model Jahiliyah?”). Ketika diberitahu duduk perkaranya, Rasulullah s.a.w. pun bersabda: “Tinggalkan perilaku Jahiliyah itu! Itu busuk baunya!” Rasulullah pun meleraikan mereka dengan adil. Dan malapetaka pun terhindarkan.

Fanatisme, terutama dalam pengertiannya yang ektrem, memang sering menghilangkan penalaran sehat; sebab memang emosi yang lebih berkuasa. Puncaknya – apabila emosi sudah sangat menguasai -- orang yang bersangkutan pun tidak mampu lagi melihat dan mendengar, shummum bukmun ‘umyun. Itulah barangkali sebabnya, orang yang terlalu fanatik terhadap kelompoknya, tidak bisa bersikap obyektif dan cenderung tidak bisa diajak bicara oleh kelompok yang lain.

Di negeri kita yang bukan Arab, khususnya di zaman pasca orde baru ini, penyakit semacam ‘ashabiyah Jahiliyah itu rupanya juga mulai mewabah. Bukan kelompok suku dan agama saja yang difanatiki berlebihan, bahkan kelompok politik pun sudah cenderung difanatiki melebihi agama. Lebih celaka lagi – agaknya karena pemahaman soal politik dan demokrasi yang masih cingkrang di satu pihak, dan pemahaman atau penghayatan agama yang dangkal di lain pihak – fanatisme kelompok politik ini membawa-bawa agama. Maka campur-aduklah antara kepentingan agama, kepentingan politik dan nafsu. Tidak jelas lagi apakah kepentingan politik mendukung agama; atau agama mendukung kepentingan politik; ataukah justru politik dan agama mendukung nafsu. Bahkan banyak mubalig atau da’i – yang seharusnya meneruskan missi kasih sayang Rasulullah s.a.w. – entah sadar atau tidak, justru lebih mirip jurkam atau malah provokator yang tidak merasa risi mengeluarkan kata-kata kotor yang sangat dibenci oleh Nabi mereka sendiri.

Itu semua ditambah kita ini sejak zaman kerajaan; zaman penjajahan; zaman orla; hingga zaman orba; tidak dididik untuk dapat berbeda, sebagai pelajaran awal berdemokrasi. Malah didikan yang kita terima terus-menerus adalah keharusan seragam. Akibatnya, ketika ‘euforia demokrasi’ marak mengiringi tumbangnya rezim Soeharto yang otoriter, orang hanya berpikir mendirikan partai tanpa sempat memikirkan kaitannya partai dengan kehidupan berdemokrasi yang menuntut sikap menghargai perbedaan. ‘Ashabiyah Jahiliyah pun menemukan bentuknya yang lebih busuk bahkan di kalangan kaum beragama.

Kalau ini tidak cepat disadari khususnya oleh para pemimpin, umumnya oleh para pendukung kelompok atau partai, minimal mereka yang masih mengakui Allah sebagai Tuhan mereka dan Sayyidina Muhammad s.a.w. sebagai nabi dan pemimpin agung mereka, saya khawatir memang azablah yang sedang menimpa kita. Dan azab itu hanya Allah yang kuasa menimpakan dan menghilangkannya. “Qul Hual Qaadiru ‘alaa ‘an yab’atsa ‘alaikum ‘azaaban …” (Q.6: 65) “Katakanlah (Muhammad,) ‘Dialah yang berkuasa mengirimkan azab dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok (fanatik yang saling bertentangan) dan mencicipkan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain …’”

Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada kita semua untuk kembali ke jalanNya yang lurus, mengikuti jejak RasulNya yang berbudi dan mulia. Amin.

Sumber :

Kamis, Juli 23, 2009

AS Suplier Al-Qaeda

Wayne Madsen Report (WMR)

WMR telah mempelajari dari sumber intelijen yang bertugas pada 2007 di Pangkalan Udara Tallil di Irak, yang juga dikenal sebagai Camp Adder oleh AD AS dan Pangkalan Udara Ali oleh AU AS, bahwa elemen-elemen intelijen AS mengimpor ‘pasukan bayaran’ Afghan ke Irak dalam rangka menyerang warga sipil Irak dan personil militer, serta pasukan koalisi, bahkan termasuk personil militer AS. Orang-orang Afghan ini direkrut dari elemen-elemen Taliban dan dibayar dalam melakukan “tugas” tersebut di Irak.

WMR telah mengetahui bahwa sekitar tahun 2007, polisi Irak menghentikan sebuah truk yang menggandeng trailer setinggi 40 kaki di atas jembatan Kerrada di Baghdad. Ketika polisi Irak memeriksa trailer tersebut, mereka dikejutkan dengan keberadaan sekitar 30 hingga 40 orang-orang Taliban dari Afghan. Mereka mengatakan bahwa mereka dibawa ke Irak oleh Amerika Serikat dan bertugas menimbulkan kekacauan di Irak, kebanyakan dari kekacauan itu dinisbatkan oleh komandan militer AS sebagai pekerjaan “Tanzim Qaidat Al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (Organisasi jihad di Negeri Dua Sungai) atau lebih dikenal dengan “Al Qaeda di Mesopotamia.”

Polisi Irak diperintahkan oleh para komandan militer AS pada saat itu juga untuk mengizinkan para perusuh Afghan ini meninggalkan jembatan Kerrada tanpa gangguan lebih lanjut. (Wayne Madsen,(jurnalis investigatif; mantan pejabat intelijen U.S. Navy; mantan analis intelijen NSA, Posted by Jemala Gembala)

Sumber : Http://Muhsinlabib.Wordpress.com